Klik ini untuk info kerja
Secara harfiah, entrepreneur merupakan individu yang memiliki pengendalian tertentu terhadap alat produksi dan menghasilkan lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsinya atau dijual atau ditukarkan agar memperoleh pendapatan. Istilah entrepreneur diungkapkan pertama kali oleh seorang ekonom Irlandia, keturunan Perancis (R. Cantillon, 1697-1734). Menurut rumusan awal Cantillon tersebut, entrepreneur adalah ahlinya mengambil risiko dalam menghasilkan kombinasi baru berbagai produk atau proses atau dalam mengantisipasi pasar atau mengkreasikan tipe organisasi baru. Oleh karena itu, seorang entrepreneur adalah pemimpin suatu industri baru yang bisa menghasilkan perubahan struktural, pertumbuhan ekonomi dan siklus bisnis dengan cara mengkombinasikan ide-ide ekonomi dan psikologi. Bahkan lebih jauh, terkait dengan pembangunan ekonomi, para entrepreneur mampu mengendalikan revolusi dan mentransformasi serta memperbaharui perekonomian dunia. Hal ini karena entrepreneurship merupakan esensi usaha bebas dari kelahiran bisnis baru yang memberikan vitalitas bagi ekonomi global.
Berapa wirausahawan lagi yang dibutuhkan?
Sosiolog David McClelland menyatakan bahwa suatu negara bisa menjadi
makmur apabila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura
sudah mencapai 7,2%, padahal pada tahun 2001 hanya sekitar 2,1%. Sedangkan
Indonesia hanya memiliki 0,18% dari penduduk atau 400.000-an orang. Itulah
alasan kenapa pembangunan di Indonesia selalu memiliki masalah yang jika
dilihat relatif sama dari tahun ke tahun. Dan salah satu permasalahan di
Indonesia yang berperan penting terhadap pembangunan ialah kurangnya peran
seorang entrepreneur dalam membangun bangsa Indonesia.
Innovative
Entrepreneur Sebagai Solusi
Kemajuan ekonomi yang luar biasa dari
berbagai Negara yang telah mapan, disebabkan oleh inovasi entrepreneur. Semakin
banyak entrepreneur dimiliki oleh sebuah Negara, semakin makmur negara
tersebut. Menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur di suatu negara jelas
memiliki kaitan dengan kesejahteraan bangsanya sendiri, setidaknya terdapat
empat alasan; mengapa perlu dikembangkan innovative entrepreneurship,
alasannya, yaitu.
- Solusi bagi dirinya sendiri
- Solusi bagi sesamanya
- Solusi bagi komunitasnya
- Solusi bagi Negara
Kekhawatiran kita akan masa depan bangsa adalah ketika gagal
menciptakan para entrepreneur pencipta lapangan kerja yang mampu mengubah pola
pikir menjadi karyawan dibandingkan memiliki kemandirian berusaha yang hanya
akan menjadi bangsa pemalas.
Harapan kita di masa depan bertumpu pada para innovative
entrepreneur yang smasih berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi.
Mereka harus mempersiapkan diri menjadi entrepreneur baru dalam
membangun kehidupannya kelak ketika mereka telah menyelesaikan pendidikannya.
Kini tiba saatnya untuk membangkitkan semangat dan
kecakapan innovative entrepreneurship untuk menghasilkan jutaan entrepreneur
baru bagi bangsa ini sebagai solusi untuk membantu pemerintah dalam menyikapi
keterpurukan ekonomi yang marginal dan sebagai solusi penciptaan lapangan kerja
baru. Bukan saatnya lagi sebuah perguruan tinggi hanya mencetak sarjana dan
memegang ijazah sebagai sebuah kebanggaan untuk digunakan melamar kiri kanan di
semua sektor public office atau public privat, tetapi jauh lebih penting
seorang lulusan perguruan tinggi memiliki inovative entrepreneurship.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan
perguruan tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada
pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Perguruan tinggi seharusnya mampu
mengubah cara pandang yang sebagian besar alumninya selalu ingin
berprofesi sebagai pegawai negeri menjadi wirausaha Perubahan ini harus
ditanamkan melalui pendidikan berwawasan kewirausahaan yang kreatif dan
inovatif. Jumlah wirausaha saat ini di Indonesia sekitar 450.000 orang atau
sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini jauh dari ideal, yakni 2
persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibanding dengan negara
tetangga seperti Sangapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk,
sedangkan Amerika Serikat 12 persen, dan Malaysia 3 persen (Kompas, 25 Juli
2011 hal. 12)
Ada filosofis yang mengakar pada
masyarakat kita yang menyebabkan banyak orang tidak termotivasi terjun ke
dunia bisnis karena orang tuanya selalu menjadi harapan anaknya untuk bekerja
di kantor pemerintahaan atau swasta, bahkan lebih menyedihkan lagi kalimat
orang tua “untuk apa sekolah tinggi, jika hanya mau menjadi wiraswasta”.
Kenyataannya, masih banyak yang memandang bahwa profesi wirausaha cukup
menjanjikan harapan di masa depan. Hal ini didorong oleh kondisi persaingan di
antara pencari kerja yang semakin ketat. Lowongan pekerjaan mulai terasa
sempit. ditambah lagi dengan policy zero growth oleh pemerintah dalam bidang
kepegawaian. Bahkan berita duka para pencacah ijazah ke kantor instansi
pemerintah yang membuka lowongan kerja sangat sedikit bahkan ada instansi
pemerintah yang tidak sama sekali menerima calon pegawai negeri tahun ini.
Semoga kedepan bangsa ini menjadi bangsa yang mencintai inovative
entrepreneurship sebagai solusi terbaik masa depan.
Innovative Entrepreneur Sebagai Solusi
Kemajuan ekonomi yang luar biasa dari
berbagai Negara yang telah mapan, disebabkan oleh inovasi entrepreneur. Semakin
banyak entrepreneur dimiliki oleh sebuah Negara, semakin makmur negara
tersebut. Menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur di suatu negara jelas
memiliki kaitan dengan kesejahteraan bangsanya sendiri, setidaknya terdapat
empat alasan; mengapa perlu dikembangkan innovative entrepreneurship,
alasannya, yaitu.
- Solusi bagi dirinya sendiri
- Solusi bagi sesamanya
- Solusi bagi komunitasnya
- Solusi bagi Negara
Kekhawatiran kita akan masa depan bangsa adalah ketika gagal
menciptakan para entrepreneur pencipta lapangan kerja yang mampu mengubah pola
pikir menjadi karyawan dibandingkan memiliki kemandirian berusaha yang hanya
akan menjadi bangsa pemalas.
Harapan kita di masa depan bertumpu pada para innovative
entrepreneur yang smasih berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi.
Mereka harus mempersiapkan diri menjadi entrepreneur baru dalam
membangun kehidupannya kelak ketika mereka telah menyelesaikan pendidikannya.
Kini tiba saatnya untuk membangkitkan semangat dan
kecakapan innovative entrepreneurship untuk menghasilkan jutaan entrepreneur
baru bagi bangsa ini sebagai solusi untuk membantu pemerintah dalam menyikapi
keterpurukan ekonomi yang marginal dan sebagai solusi penciptaan lapangan kerja
baru. Bukan saatnya lagi sebuah perguruan tinggi hanya mencetak sarjana dan memegang
ijazah sebagai sebuah kebanggaan untuk digunakan melamar kiri kanan di semua
sektor public office atau public privat, tetapi jauh lebih penting seorang
lulusan perguruan tinggi memiliki inovative entrepreneurship.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan
perguruan tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada
pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Perguruan tinggi seharusnya mampu
mengubah cara pandang yang sebagian besar alumninya selalu ingin
berprofesi sebagai pegawai negeri menjadi wirausaha Perubahan ini harus
ditanamkan melalui pendidikan berwawasan kewirausahaan yang kreatif dan
inovatif. Jumlah wirausaha saat ini di Indonesia sekitar 450.000 orang atau
sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini jauh dari ideal, yakni 2
persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibanding dengan negara
tetangga seperti Sangapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk,
sedangkan Amerika Serikat 12 persen, dan Malaysia 3 persen (Kompas, 25 Juli
2011 hal. 12)
Ada filosofis yang mengakar pada
masyarakat kita yang menyebabkan banyak orang tidak termotivasi terjun ke
dunia bisnis karena orang tuanya selalu menjadi harapan anaknya untuk bekerja
di kantor pemerintahaan atau swasta, bahkan lebih menyedihkan lagi kalimat
orang tua “untuk apa sekolah tinggi, jika hanya mau menjadi wiraswasta”.
Kenyataannya, masih banyak yang memandang bahwa profesi wirausaha cukup
menjanjikan harapan di masa depan. Hal ini didorong oleh kondisi persaingan di
antara pencari kerja yang semakin ketat. Lowongan pekerjaan mulai terasa
sempit. ditambah lagi dengan policy zero growth oleh pemerintah dalam bidang
kepegawaian. Bahkan berita duka para pencacah ijazah ke kantor instansi
pemerintah yang membuka lowongan kerja sangat sedikit bahkan ada instansi
pemerintah yang tidak sama sekali menerima calon pegawai negeri tahun ini.
Semoga kedepan bangsa ini menjadi bangsa yang mencintai inovative
entrepreneurship sebagai solusi terbaik masa depan.
Referensi :
2. Jurnal Membangun Indonesia Melalui
Kepemimpinan Entrepreneur Agribisnis, oleh Rachmat Pambudy

Comments