Globalisasi, dalam telaah filosofis globalisasi
oleh Armada Riyanto, 2010, disebutkan sebagai badai, yaitu sebuah gelombang
model relasi antarmanusia yang menerpa siapa saja dan tidak ada yang mampu
mengelaknya. Pengertian globalisasi sendiri diambil dari kata global yang
artinya universal. menurut wikipedia pengertian globalisasi tidak atau belum
mempunya definisi yang tetap dan masih sangat luas cakupanya tergantung
bagaimana pengguna menempatkan. Ada sebagian yang berpendapat bahwa globalisasi
merupakan proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan
membawa seluruh bangsa dan negara berada dalam ikatan yang semakin kuat untuk
mewujudkan sebuah tatanan kehidupan baru yang nantinya akan menghapus
batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan struktur baru, yaitu
struktur global. Struktur tersebut akan mengakibatkan semua bangsa di dunia
termasuk Indonesia, mau tidak mau akan terlibat dalam suatu tatanan global yang
seragam, pola hubungan dan pergaulan yang seragam khususnya dibidang ilmu
pengetahuan dan teknologi. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang
semakin pesat terutama teknologi komunikasi dan transportasi, menyebabkan
issu-issu global tersebut menjadi semakin cepat menyebar dan menerpa pada
berbagai tatanan, baik tatanan politik, ekonomi, sosial budaya maupun
pertahanan keamanan. Dengan kata lain globalisasi yang ditunjang dengan pesat
ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan dunia menjadi transparan tanpa
mengenal batas-batas negara. Dengan
perkembangan teknologi yang begitu pesat, masyarakat dunia khususnya
masyarakat Indonesia terus berubah sejalan dengan perkembangan teknologi, dari
masyarakat pertanian ke masyarakat industri dan berlanjut ke masyarakat pasca
industri yang serba teknologis. Pencapaian tujuan dalam bidang politik,
ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan cenderung akan semakin
ditentukan oleh penguasaan teknologi dan informasi, walaupun kualitas sumber
daya manusia (SDM) masih tetap yang utama.
Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan
global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki
keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini
kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia
menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi
yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi
persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World
Competitiveness Report menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara
yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38),
dan Thailand (40).
PERJALANAN
DILEMA SDM MASYARAKAT INDONESIA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI
Terkait dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia
yaitu adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja.
Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar
92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar
87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open
unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini
berjumlah sekitar 8 juta. Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada
masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih
didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut
menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas
angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha
akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan
rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di
sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat.
Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan
tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini
menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
(Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari
300.000 orang. Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang
berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang
memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan
sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa
pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan
manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional
yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat
dari rendahnya kualitas SDM.
Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya
penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat
menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi,
penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh
karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga
upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus
dikedepankan. Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia
pendidikan adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan
ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu
dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi dan masih banyak yang belum dan tidak sempat kami sebutkan di antaranya di tahun 2001, 2002, 2003, 2004 sampai sekarang
SOLUSI :
Ø
PENDIDIKAN ( Edukasi & Training )
Ø
INTERNET ( Tool / Alat Bantu )
Ø TEAM
WORK ( Community Development
Ketiga item solusi tersebut kami jabarkan
secara rinci di setiap program kerja kami hanya di VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA

No comments:
Post a Comment