Oleh : Eky_Casanova
Beberapa orang menjadi sangat kaya, tapi mereka tetap harus
berjuang untuk menikmati kehidupan mereka. Di sisi lainnya, orang lain mampu
melewati hidup dengan sedikit masalah keuangan hanya karena mereka mampu
mengoptimalkan apa yang mereka miliki. Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam
hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka mari di pagi
yang cerah ini kita telusuri dua tema penting ini : problem
antara uang dan kebahagiaan.
Pahami sejak awal bahwa uang dan
kebahagiaan bukan dua hal yang sama. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.
Inilah kesalahan yang sering dibuat oleh banyak orang. Jangan membuat kesalahan
yang sama. Anda bisa mikin namun bahagia. Anda bisa kaya sekaligus bahagia, Anda
juga bisa miskin atau kaya dan menderita, kesemuanya itu adalah beberapa
konteks yang coba kita kaitkan antara uang kebahagiaan.
Permasalahan kehidupan di dunia
ini baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan hampir-hampir
semuanya diawali dari persoalan uang, tetapi bukan berarti uang adalah
kunci kebahagiaan anda. Terlalu banyak uang, tidak menjamin seseorang merasakan
bahagia dalam hidupnya, dan sebaliknya dengan uang seadanya namun diiringi
dengan rasa bersyukur, ternyata mampu menciptakan kebahagiaan seseorang
dalam kehidupan, ini juga ada salah satu konteks dimana uang dan kebahagiaan
juga menjadi problem dalam kehidupan kita.
Fakta yang teramati, banyak
pejabat yang mengawali karirnya dengan cemerlang tanpa disadari ternyata
“gara-gara uang” mengantarkan mereka masuk ke penjara,
kita sering menyaksikannya di tv, ini juga adalah problem antara uang dan
kebahagiaan.
Dalam dunia bisnis; uang sering
berfungsi ganda, di satu sisi sebagai alat pembayaran, namun di sisi lain uang
berfungsi sebagai alat untuk melakukan negosiasi. Demikian juga dalam dunia politik, uang sering digunakan sebagai alat
perjuangan politik praktis. Tidak mau ketinggalan pula pada sektor publik
birokrasi pemerintah, uang sering digunakan sebagai alat untuk membeli
jabatan guna memperoleh kekuasaan.
Dalam dunia peradilanpun uang
sering digunakan untuk membeli hukum. Seolah uang telah menjadi panglima dan
juru selamat dari semua permasalahan kehidupan, uang memang bukan segalanya,
tetapi tanpa uang segalanya bisa menjadi tak bermakna.
Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan
kebahagiaan sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal,
dilakukan oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga
pemenang nobel ekonomi 2002. Dalam risetnya itu ia menemukan fakta yang dikenal
dengan istilah : income threshold. Inilah titik batas income
yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak. Sebelum
income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran signifikan dalam
menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah menembus batas threshold itu,
maka uang tidak lagi punya makna dalam menentukan kebahagiaan. Lalu berapa
titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang melibatkan ribuan responden di
USA, angka batas income itu adalah USD 6000 per bulan (Dengan mempertimbangkan
perbedaan biaya hidup, mungkin angka USD 6000 itu ekivalen dengan angka Rp 15 –
20 juta per bulan, jika diubah dalam konteks Indonesia). Penelitinya menulis : sebelum income menembus angka
USD 6000 per bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan
seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial yang
terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi. Namun, begitu
income responden melampaui USD 6000, maka peran uang dalam membentuk
kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap. Artinya, orang dengan income
USD 6500 misalnya akan memiliki level kebahagiaan yang tidak berbeda dengan
orang dengan income USD 60.000 per bulan atau bahkan USD 6 juta per bulan.
Dalam
konteks itulah benar jika ada yang menyebut : semakin kaya Anda, belum tentu
makin bahagia. Studi Kahneman menegaskan : makin tinggi income Anda,
ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan
kebahagiaan. Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang,
ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?
Kajian-kajian
dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal
dengan nama “hedonic treadmill”. Secara garis besar, hedonic treadmill ini adalah
seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per
bulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu
pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain,
nafsmu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan
peningkatan income. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill? Karena kebahagiaan
seseorang tidak akan pernah sampai di titik puncak sebab nafsu/hasrat akan
materi tidak akan pernah terpuaskan.
Saat
income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini
mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill. Hedonic treadmill
membuat ekspektasi seseorang akan materi
terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaan dalam pandangan ini selalu stagnan,
meski income makin tinggi. Sebab harapan akan penguasaan materi juga terus meningkat
sejalan kenaikan income seseorang.
Ada
eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar
dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. Apa yang terjadi ?
Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu sama
dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill :
karena nafsu/hasrat terus meningkat, sehingga kebahagiaan itu seolah berjalan
di tempat, meski income melompat 10 kali lipat atau bahkan dapat hadiah 5
milyar.
Jadi
apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill?
Lolos dari jebakan nafsu/hasrat akan materi yang tidak pernah berhenti?
Disinilah pentingnya untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis yang
bersahaja : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan
materi.
Prinsip
hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus
tetapi justru jebakan nafsu yang terus semakin membuai. Makin banyak mobil yang
kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir,
tetapi seiring dengan hal itu godaan nafsu kemewahan juga semakin hari akan
terus bertambah.
Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin
indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan
lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.
Sebagai kesimpulan, bahwa uang memang salah satu faktor untuk
beberapa konteks kebahagiaan kita, tetapi jika kita terlalu serakah maka justru
anda hanya akan dibutakan oleh “hasrat ingin lebih” dan tidak akan pernah puas
dengan apa yang anda miliki hari ini. Jika anda mengontrolnya dengan kelembutan
dan kelenturan hati maka anda akan benar-benar menjadi sosok yang super-bahagia
karena anda tidak pernah takut menggunakan uang anda untuk seluruh kebaikan
yang anda ingin lakukan karena andalah yang menjadi raja bagi uang anda dan
bukan uang anda yang menjadi raja dalam kehidupan anda dan beginilah seharusnya
yang terbaik untuk konteks kebahagiaan anda menilai dan mempergunakan uang
anda.
Karena Uang dapat membeli sebuah rumah tapi
bukan tempat tinggal, uang dapat beli banyak tempat tidur tapi tidak semuanya
anda gunakan untuk tidur, uang dapat beli sebuah jam tapi bukan waktu, uang
dapat beli sebuah buku tapi bukan pengetahuan. Uang dapat beli sebuah posisi tapi bukan kehormatan,
uang dapat belikan kamu obat tapi bukan kesehatan, uang dapat beli darah tapi
bukan kehidupan.
VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA
PROJECT DEVELOPMENT
UMKM DAN MASA DEPAN EKONOMI INDONESIA

No comments:
Post a Comment