FORUM ENTREPRENEUR INDONESIA, PERAN ENTREPRENEUR INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

  • Breaking News

    Monday, 22 June 2015

    PROBLEM ANTARA UANG DAN KEBAHAGIAAN


    Oleh : Eky_Casanova

    Beberapa orang menjadi sangat kaya, tapi mereka tetap harus berjuang untuk menikmati kehidupan mereka. Di sisi lainnya, orang lain mampu melewati hidup dengan sedikit masalah keuangan hanya karena mereka mampu mengoptimalkan apa yang mereka miliki. Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka mari di pagi yang cerah ini kita telusuri dua tema penting ini : problem antara uang dan kebahagiaan.

    Pahami sejak awal bahwa uang dan kebahagiaan bukan dua hal yang sama. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Inilah kesalahan yang sering dibuat oleh banyak orang. Jangan membuat kesalahan yang sama. Anda bisa mikin namun bahagia. Anda bisa kaya sekaligus bahagia, Anda juga bisa miskin atau kaya dan menderita, kesemuanya itu adalah beberapa konteks yang coba kita kaitkan antara uang kebahagiaan.

    Permasalahan kehidupan di dunia ini baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan  hampir-hampir semuanya  diawali dari persoalan uang, tetapi bukan berarti uang adalah kunci kebahagiaan anda. Terlalu banyak uang, tidak menjamin seseorang merasakan bahagia dalam hidupnya, dan sebaliknya dengan uang seadanya namun diiringi dengan rasa bersyukur, ternyata mampu  menciptakan kebahagiaan seseorang dalam kehidupan, ini juga ada salah satu konteks dimana uang dan kebahagiaan juga menjadi problem dalam kehidupan kita.

    Fakta yang teramati, banyak pejabat yang mengawali karirnya dengan cemerlang tanpa disadari ternyata “gara-gara uang” mengantarkan mereka masuk ke penjara, kita sering menyaksikannya di tv, ini juga adalah problem antara uang dan kebahagiaan.

    Dalam dunia bisnis; uang sering berfungsi ganda, di satu sisi sebagai alat pembayaran, namun di sisi lain uang berfungsi sebagai alat untuk melakukan negosiasi.  Demikian juga dalam dunia politik, uang sering digunakan sebagai alat perjuangan politik praktis.  Tidak mau ketinggalan pula pada sektor publik birokrasi pemerintah, uang sering digunakan sebagai alat untuk membeli  jabatan guna memperoleh  kekuasaan.

    Dalam dunia peradilanpun uang sering digunakan untuk membeli hukum. Seolah uang telah menjadi panglima dan juru selamat dari semua permasalahan kehidupan, uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang segalanya bisa menjadi tak bermakna.

    Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal, dilakukan oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga pemenang nobel ekonomi 2002. Dalam risetnya itu ia menemukan fakta yang dikenal dengan istilah : income threshold. Inilah titik batas income yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak. Sebelum income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran signifikan dalam menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah menembus batas threshold itu, maka uang tidak lagi punya makna dalam menentukan kebahagiaan. Lalu berapa titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang melibatkan ribuan responden di USA, angka batas income itu adalah USD 6000 per bulan (Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka USD 6000 itu ekivalen dengan angka Rp 15 – 20 juta per bulan, jika diubah dalam konteks Indonesia). Penelitinya menulis : sebelum income menembus angka USD 6000 per bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial yang terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi. Namun, begitu income responden melampaui USD 6000, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap. Artinya, orang dengan income USD 6500 misalnya akan memiliki level kebahagiaan yang tidak berbeda dengan orang dengan income USD 60.000 per bulan atau bahkan USD 6 juta per bulan.

    Dalam konteks itulah benar jika ada yang menyebut : semakin kaya Anda, belum tentu makin bahagia. Studi Kahneman menegaskan : makin tinggi income Anda, ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan kebahagiaan. Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

    Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”. Secara garis besar, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain, nafsmu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill? Karena kebahagiaan seseorang tidak akan pernah sampai di titik puncak sebab nafsu/hasrat akan materi tidak akan pernah terpuaskan.

    Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang  jebakan hedonic treadmill. Hedonic treadmill membuat ekspektasi seseorang  akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaan dalam pandangan ini selalu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab harapan akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan income seseorang.

    Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu sama dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsu/hasrat terus meningkat, sehingga kebahagiaan itu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali lipat atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.

    Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu/hasrat akan materi yang tidak pernah berhenti? Disinilah pentingnya untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis yang bersahaja : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

    Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus tetapi justru jebakan nafsu yang terus semakin membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir, tetapi seiring dengan hal itu godaan nafsu kemewahan juga semakin hari akan terus bertambah.

    Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.

    Sebagai kesimpulan, bahwa uang memang salah satu faktor untuk beberapa konteks kebahagiaan kita, tetapi jika kita terlalu serakah maka justru anda hanya akan dibutakan oleh “hasrat ingin lebih” dan tidak akan pernah puas dengan apa yang anda miliki hari ini. Jika anda mengontrolnya dengan kelembutan dan kelenturan hati maka anda akan benar-benar menjadi sosok yang super-bahagia karena anda tidak pernah takut menggunakan uang anda untuk seluruh kebaikan yang anda ingin lakukan karena andalah yang menjadi raja bagi uang anda dan bukan uang anda yang menjadi raja dalam kehidupan anda dan beginilah seharusnya yang terbaik untuk konteks kebahagiaan anda menilai dan mempergunakan uang anda.

    Karena Uang dapat membeli sebuah rumah tapi bukan tempat tinggal, uang dapat beli banyak tempat tidur tapi tidak semuanya anda gunakan untuk tidur, uang dapat beli sebuah jam tapi bukan waktu, uang dapat beli sebuah buku tapi bukan pengetahuan.  Uang dapat beli sebuah posisi tapi bukan kehormatan, uang dapat belikan kamu obat tapi bukan kesehatan, uang dapat beli darah tapi bukan kehidupan. 

    VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA

    PROJECT DEVELOPMENT

    UMKM DAN MASA DEPAN EKONOMI INDONESIA

    No comments:

    Fashion

    Beauty

    Culture