Sering kita mendengar bahwa hidup
itu adalah pilihan. Memiih untuk berprestasi, memiih untuk jadi pemenang,
memilih untuk bahagia, memilih untuk sedih, memilih untuk dendam, memilih untuk
damai dan lain-lain dalam aspek yang dijalani merupakan pertarungan dialektis
antara alam mental kita sebagai manusia dengan alam kenyataan yang dihadapi
oleh manusia.
Dalam diri kita terdapat 2 unsur
yang mempengaruhi setiap keputusan kita baik dalam melangkah, cara pandang dan
sikap kita dalam menangkap setiap persoaan hidup. Anggap misalnya bahwa dalam
diri kita ada kegelapan murni dan ada cahaya murni dan ada sumber dari
keduanya.
Kegelapan sering diartikan
sebagai kejahatan dan cahaya sering diartikan dengan kebaikan dalam dunia kenyataan
yang kita hadapi sehingga perdebatan yang muncul adalah dialektika benar dan
salah, dialektika baik dan buruk, dialektika indah dan tidak indah, dialektika
antara layak dan tidak layak. Kesemua dialektika itu adalah
pertarungan-pertarungan alam mental kita sebagai efek dari siklus gerak sisi
gelap (Kemisteriusan) dan sisi cahaya (hal yang sudah jelas) dalam diri kita.
Fanatisme lahir karena
kecendrungan dari salah satu sisi sehingga keluar dari keseimbangan alam mental
kita dan hal itu meniscayakan pertarungan cara pandang dan tindakan kita di
alam kenyataan yang kita hadapi, sehingga hal tersebut dapat memastikan adanya
pertarungan yang pasti di alam fisik di mana kita tinggali. Orang berkonflik,
bermusuhan, berdamai, berkawan, saling benci adalah merupakan salah satu contoh
dari gambaran seimbangnya atau tidak di mensi gelap dan terang dalam alam
mental kita sebagai manusia.
Alam mental kita yang berupa sisi
gelap murni dan sisi terang murni masing-masing memiliki kebutuhan satu sama
lain dan keduanya tidak bias eksis masing-masing dengan meniadakan satu sama
lain dan keduanya juga membutuhkan hal yang ada di alam nyata di mana kita
hidup. Memenuhi kebutuhan keduanya tanpa memihak adalah melambangkan dari sisi
pertarungan yang punya seni karena pertarungan keduanya merupakan hal yang
saling membutuhkan satu sama lain, menyerang dan bertarungnya kedua sisi
tersebut adalah untuk saling memberi keuntungan satu sama lain dalam membentuk
pribadi kita sebagai manusia yang seharusnya yang tak mimilih apakah ini benar
ataukah merupakan hal yang salah dalam bahasa alam kenyataan di mana kita
tinggal.
Keburukan dan kebaikan yang
ditanggapi oleh bahasa alam kita di mana kita tinggal merupakan kebutuhan dari
kedua aspek sisi gelap dan sisi terang dalam alam mental kita, jika ada
kesalahan atau keburukan yang kita terima atau perbuat jangan terbawa suasana
akan tetapi tetap tenang dan membiarkan sisi gelap itu melahap hal tersebut
karena itu merupakan kebutuhan dari sisi gelap kita daan begitu pula
sebaliknya, sehingga dengan adanya kita menyerahkan semuanya kepada sisi geap
dan terang di alam mental kita untuk mengambil masing-masing yang dibutuhkannya
maka kita akan menjadi selayaknya manusia yang punya kebijaksanaan yang tidak
perlu meniai apaka itu benar atau salah dan apakah itu baik atau buruk serta
apakah itu layak atau tidak layak karena kesemua aspek itu sudah diurus dalam
alam mental kita selama kita mau dan rela menyerahkan semuanya kepada keduanya
tanpa pemihakan dan inilah yang dimaksud dengan peperangan yang penuh dengan
seni yang akan mengantarkan kita pada kekosongan sejati.

No comments:
Post a Comment