FORUM ENTREPRENEUR INDONESIA, PERAN ENTREPRENEUR INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

  • Breaking News

    Friday, 10 April 2015

    Spiritualitas Dalam Bisnis Dan Manajemen

     Klik ini untuk belajar berbisnis
    Oleh : Eky_Casanova
    Di tengah-tengah kompleksitas kehidupan hari ini yang begitu serba rumit dalam persoalan interaksi antar social, dikarenakan pola hidup masyarakat yang disibukkan oleh urusan masing-masing, baik itu dalam aspek dunia kerja, aspek kampus, aspek bisnis atau usaha, sehingga implikasinya adaalah orang-orang terjebak ke dalam individualisme yang menjerumuskan mereka ke dalam ranah yang lebih negative.
    Individualisme justru malah mengedepankan kepentingan pribadi ketimang kepentikan majemuk sehingga moral of social acapkali tak nampak di pola-pola interaksi kita hari ini. Tawaran solusi untuk hal itu kami rumuskan sesuai dengan konteks analisa kami dalam hal pola interaksi dalam bidang bisnis atau usaha.
    Dalam pola interaksi  kita sehari-hari, banyak sekali hal yang sangat mengguncang secara hati nurani, baik itu dalam fenomena kecurangan bisnis, tipuan dalam bisnis online, tindak pidana korupsi dan lain-lain sebagainya, kesemuanya itu hanyalah efek dari minimnya kesadaran pemahaman dari aspek akuntabilitas dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Pemaparan konsep trilogy dimensi akuntabilitas (TDA) sangat diperlukan dalam menjawab problematika tersebut.
    TDA menawarkan tiga aspek tanggung jabab, yaitu ; pertanggungjawaban primer kita kepada Sang Pencipta (Tuhan dalam bahasa agamanya), pertanggung jawaban kita terhadap alam, dan pertanggung jawaban kita terhadap social (sesame manusia). Konsep TDA inilah yang kami maksud sebagai sprirualitas dan merupakan aspek yang sangat penting dalam pola-pola interaksi apapun. Dan kami ingin menawarkan konsep spiritual dan manajemen dalam bisnis beserta efektifitasnya yang nantinya akan kami urai sesederhana mungkin sesuai dengan kemampuan kami yang teratas.
    Tentu saja masih banyak orang yang mempertanyakan manfaat dan efektivitas spiritual manajemen dalam bisnis. Seiring dengan itu, semakin banyak pula organisasi bisnis yang telah melaporkan bahwa mereka mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih menguntungkan melalui spiritual manajemen. Diantara hal yang dirasakan adalah keakraban dan kehangatan hubungan atasan bawahan yang terasa dekat yang pada gilirannya dapat mencegah praktik pemogokan. Tidak mengherankan jika kualitas kerja meningkat dan tumbuh kepedulian para pekerja terhadap tujuan bersama organisasi. Meskipun sejumlah organisasi masih enggan menyatakan secara terbuka tentang manfaat spiritual manajemen, namun dari pernyataan-pernyatan mereka acapkali terkandung pengakuan akan manfaatnya. Aspek spiritual telah muncul sebagai pendatang baru di arena bisnis dan manajemen, yang telah menempatkan setiap orang sebagai manusia dan untuk selanjutnya sebagai tenaga kerja.
    Hal terkait lainnya dengan aspek spiritual adalah cinta. Cinta adalah perwujudan imanensi dari transedensi aspek spiritual. Memang cinta adalah kata yang agak janggal untuk dikaitkan dengan konteks bisnis dan manajemen yang penuh dengan konotasi persaingan dan “saling memangsa”. Mungkin karena cinta sudah terlanjur banyak dicuplik dalam kisah-kisah romantik penuh kelembutan pada buku-buku novel, ketimbang pada teks kepemimpinan dan manajemen bisnis yang berkesan keras dan kejam. Konsep ‘cinta’ mungkin sudah terlanjur dimaknai sebagai hal yang emosional atau sentimental, sehingga orang lebih suka menggunakan kata ‘spiritualitas’ sebagai alternatif yang bermanfaat. Spiritualitas lebih dapat dilihat sebagai perspektif kedalaman ruang batin manusia, dan dapat menjadi ide sentral yang melibatkan cinta sebagai salah satu tema bahasan dalam bisnis dan manajemen, yang terkait dengan kualitas eksistensi manusia, nilai-nilai dan keyakinan pribadi, hubungan kita dengan sesama manusia, hubungan kita dengan realita, alam semesta, dan seterusnya.
    Sejumlah filsuf melihat cinta dan spiritualitas sebagai hal yang terpisah, namun sebagian besar lainnya melihat cinta dan spiritualitas sebagai hal yang sama. Dalam bisnis dan manajemen ‘cinta’ dan/atau ‘spiritualitas’ mengandung arti belas
    kasih yang tulus bagi umat manusia, dengan segala bentuk perwujudannya. Tentu saja kita tidak akan berbincang tentang asmara atau seks. Kita juga tidak akan terlalu tenggelam dengan pembahasan tentang Tuhan atau agama. Cinta dan spiritualitas telah diadopsi oleh berbagai organisasi dan keyakinan agama, sehingga cinta dan spiritualitas telah menjadi nilai universal yang melintasi batas sekat-sekat formalisme agama. Yang jelas siapapun bisa mencintai orang lain dan melakukan gerak spiritual dengan cara mereka sendiri.
    Gerak cinta dan/atau spiritualitas meliputi kasih sayang dan kearifan terhadap orang lain, yang enggan merusak dunia untuk generasi mendatang. Dengan demikian, cinta dalam dunia bisnis dan manajemen berarti membuat keputusan dengan menaruh kepedulian terhadap orang lain dan dunia yang kita tinggali. Pertanyaannya, mengapa cinta dan/atau spiritualitas sebagai sebuah konsep justru sering diabaikan dalam bisnis dan manajemen? Bagaimana cinta, kasih sayang dan spiritualitas sering dianggap sebagai aspek yang ketinggalan zaman dalam pengembangan bisnis dan manajemen?
    Kemungkinan bahwa cinta dan/atau spiritualitas menjadi sesuatu yang tabu dalam suatu korporasi karena praktik bisnis dan manajemen pada abad ke-20 sebagian besar berkaitan dengan perspektif ‘sisi otak kiri’, yang sering berkutat dengan permasalahan kinerja bisnis dan manajemen, penalaran kritikal, total qulity control, perencanaan strategik, revenue, laba, dan lain sebagainya yang mendominasi praktik bisnis dan manajemen. Tentu kesemuanya itu merupakan aspek penting dalam bisnis dan manajemen, namun secara fundamental hal demikian lebih ‘berorientasi maskulin’, mungkin karena pria umumnya lebih didominasi oleh pemikiran sisi-otak-kiri ketimbang sisi otak kanan dalam bekerja. Dan memang Secara historikal laki-laki lebih mendominasi lanskap bisnis dan manajemen, dan hal tersebut masih mendominasi sampai saat ini. Tidak mengherankan jika kemudian sejumlah ide dan prioritas lebih berorientasi maskulin – keberpihakan terhadap sisi otak kiri-lah – yang cenderung mendominasi bisnis dan manajemen. Sebaliknya cinta, kasih sayang dan spiritualitas pada umumnya dianggap sebagai sifat feminin. Kaum wanita lebih mungkin dibandingkan pria untuk lebih menunjukkan kasih-sayang, welas asih, dan perilaku spiritual lainnya karena harapan budaya dan sosial yang melatar belakanginya.

    NB : Kami mengajak para pembaca untuk turut serta berpartisipasi dalam komunitas kami ( VISASIA ENTREPRENEUR COMMUNITY), untuk info selengkapnya klik link HERE

    SEKIAN DAN TERIMAKASIH ATAS PARTISIPASI ANDA.

    Fashion

    Beauty

    Culture