FORUM ENTREPRENEUR INDONESIA, PERAN ENTREPRENEUR INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

  • Breaking News

    Sunday, 17 May 2015

    TIDAK MELAKUKAN APA – APA ITULAH SUBKAPITALIS


    Perekonomian dalam Negara dapat dilihat melalui proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Perkembangan ekonomi pada satu negara sangat ditentukan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor internal, diantaranya adalah kondisi fisik, lokasi geografi, jumlah dan kualitas sumber daya alam dan manusia. Faktor-faktor eksternal diantaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan politik dunia, serta keamanan global. Kita sebagai bangsa yang besar adalah mangsa yang sangat empuk di tengah berlangsungnya pertangungan ekonomi global di karenakan sumber daya alam kita yang begitu melimpah bukan hanya dari sisi pertanian saja akan tetapi potensi tambang dan perikanan yang juga menjadi daya tarik oleh pihak luar untuk menanam modal jangka panjang sebagai jaminan atas pengelolaan SDA tersebut.

    Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo) Afrizal Gindow mengatakan bisnis hortikultura di Indonesia sangat menggiurkan. Ini berpotensi menarik minat investasi asing. "Nilai bisnis sayur mayur di Indonesia bisa menembus Rp 100 triliun atau 100 kali lipatnya benih, jadi pangsa pasar ini masih bisa meningkat dua kali lipat. Makanya benih sangat penting untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian sayur mayur,” kata Afrizal. Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih ketergantungan impor sayuran dari China, Taiwan, Thailand dan negara lain. Nilai impornya mencapai sekitar Rp 17 triliun. Afrizal menjelaskan konsumsi sayur mayur di Indonesia baru mencapai 40 kilogram (kg) per tahun. Angka ini separuh dari rekomendasi Organisasi Pangan Sedunia (FAO) sebanyak 80 kg setiap tahun. referensi

    Masalah sumber daya alam kita yang tidak seimbang dengan jumlah SDM adalah hal yang perlu di titik beratkan untuk menjadi bahan pertimbangan skala prioritas. Banyak dari lahan yang potensial sudah beralih menjadi lahan-lahan pembangunan properti, hal tersebut hanyalah sebuah efek dari lemahnya strategi kita dalam memberdayakan petani lokal kita baik dalam hal personal skillnya di bidangnya maupun dalam hal menyiapkan pasar yang layak terlebih lagi bantuan dana pengelolaan yang terukur dan tepat sasaran ( hipotesa ). Jika yang menjadi bahan analisa kita adalah hipotesa tersebut maka wajarlah banyak lahan-lahan yang potensial beralih menjadi lahan perumahan karena kondisi pendapatan petani kita di beberaapa daerah yang tak perlu saya sebutkan sangat jauh dari harapan jika dibandingkan dengan langsung menjual lahannya ke proyek-proyek properti.

    Kekayaan kita tidak bisa di pungkiri, akan tetapi melihat kondisi di mana-mana justru kita geleng-geleng kepala. Butuh kerjasama kolektif yang strategis dan terukur oleh semua pihak, baik pemerintah yang terkait dan masyarakat secara keseluruhan tanpa terkecuali. Ini adalah masalah kita semua dan hal tersebut di atas tidak boleh dibiarkan begitu saja karena kemerdekaan SDA dan SDM kita merupakan faktor pendukung primer yang bisa menuntaskan masalah perekonomian bangsa kita.

    MEMAKSAKAN PENYAMARATAAN ANTARA YANG MISKIN DAN KAYA TANPA BERBUAT APA-APA ITULAH KOMUNAL KOLEKTIF UTOPIS. SERTA TIDAK MELAKUKAN APA – APA ITULAH SUBKAPITALIS (bahan renungan).
    Mari berkarya untuk bangsa yang kita cintai ini di VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA : masa depan indonesia adalah masa depan indonesia, jangan tinggal diam dan bersegeralah mengambil peran. JOIN BERSAMA KAMI




    No comments:

    Fashion

    Beauty

    Culture