Perekonomian dalam Negara dapat dilihat
melalui proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Perkembangan ekonomi pada
satu negara sangat ditentukan oleh banyak faktor, baik internal maupun
eksternal. Faktor-faktor internal, diantaranya adalah kondisi fisik, lokasi
geografi, jumlah dan kualitas sumber daya alam dan manusia. Faktor-faktor
eksternal diantaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan
politik dunia, serta keamanan global. Kita sebagai bangsa yang besar adalah mangsa yang sangat empuk di
tengah berlangsungnya pertangungan ekonomi global di karenakan sumber daya alam
kita yang begitu melimpah bukan hanya dari sisi pertanian saja akan tetapi
potensi tambang dan perikanan yang juga menjadi daya tarik oleh pihak luar
untuk menanam modal jangka panjang sebagai jaminan atas pengelolaan SDA
tersebut.
Ketua Umum
Asosiasi Perusahaan Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo) Afrizal Gindow
mengatakan bisnis hortikultura di Indonesia sangat menggiurkan. Ini berpotensi
menarik minat investasi asing. "Nilai bisnis sayur mayur di Indonesia bisa
menembus Rp 100 triliun atau 100 kali lipatnya benih, jadi pangsa pasar ini
masih bisa meningkat dua kali lipat. Makanya benih sangat penting untuk
meningkatkan produktivitas hasil pertanian sayur mayur,” kata Afrizal.
Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih ketergantungan impor sayuran dari
China, Taiwan, Thailand dan negara lain. Nilai impornya mencapai sekitar Rp 17
triliun. Afrizal menjelaskan konsumsi sayur mayur di Indonesia baru mencapai 40
kilogram (kg) per tahun. Angka ini separuh dari rekomendasi Organisasi Pangan
Sedunia (FAO) sebanyak 80 kg setiap tahun. referensi
Masalah
sumber daya alam kita yang tidak seimbang dengan jumlah SDM adalah hal yang
perlu di titik beratkan untuk menjadi bahan pertimbangan skala prioritas.
Banyak dari lahan yang potensial sudah beralih menjadi lahan-lahan pembangunan
properti, hal tersebut hanyalah sebuah efek dari lemahnya strategi kita dalam
memberdayakan petani lokal kita baik dalam hal personal skillnya di bidangnya
maupun dalam hal menyiapkan pasar yang layak terlebih lagi bantuan dana
pengelolaan yang terukur dan tepat sasaran ( hipotesa ). Jika yang menjadi
bahan analisa kita adalah hipotesa tersebut maka wajarlah banyak lahan-lahan
yang potensial beralih menjadi lahan perumahan karena kondisi pendapatan petani
kita di beberaapa daerah yang tak perlu saya sebutkan sangat jauh dari harapan
jika dibandingkan dengan langsung menjual lahannya ke proyek-proyek properti.
Kekayaan kita
tidak bisa di pungkiri, akan tetapi melihat kondisi di mana-mana justru kita
geleng-geleng kepala. Butuh kerjasama kolektif yang strategis dan terukur oleh
semua pihak, baik pemerintah yang terkait dan masyarakat secara keseluruhan
tanpa terkecuali. Ini adalah masalah kita semua dan hal tersebut di atas tidak
boleh dibiarkan begitu saja karena kemerdekaan SDA dan SDM kita merupakan
faktor pendukung primer yang bisa menuntaskan masalah perekonomian bangsa kita.
MEMAKSAKAN
PENYAMARATAAN ANTARA YANG MISKIN DAN KAYA TANPA BERBUAT APA-APA ITULAH KOMUNAL
KOLEKTIF UTOPIS. SERTA TIDAK MELAKUKAN APA – APA ITULAH SUBKAPITALIS (bahan
renungan).
Mari berkarya
untuk bangsa yang kita cintai ini di VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA : masa
depan indonesia adalah masa depan indonesia, jangan tinggal diam dan
bersegeralah mengambil peran. JOIN BERSAMA KAMI
Perekonomian dalam Negara dapat dilihat
melalui proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Perkembangan ekonomi pada
satu negara sangat ditentukan oleh banyak faktor, baik internal maupun
eksternal. Faktor-faktor internal, diantaranya adalah kondisi fisik, lokasi
geografi, jumlah dan kualitas sumber daya alam dan manusia. Faktor-faktor
eksternal diantaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan
politik dunia, serta keamanan global. Kita sebagai bangsa yang besar adalah mangsa yang sangat empuk di
tengah berlangsungnya pertangungan ekonomi global di karenakan sumber daya alam
kita yang begitu melimpah bukan hanya dari sisi pertanian saja akan tetapi
potensi tambang dan perikanan yang juga menjadi daya tarik oleh pihak luar
untuk menanam modal jangka panjang sebagai jaminan atas pengelolaan SDA
tersebut.
Ketua Umum
Asosiasi Perusahaan Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo) Afrizal Gindow
mengatakan bisnis hortikultura di Indonesia sangat menggiurkan. Ini berpotensi
menarik minat investasi asing. "Nilai bisnis sayur mayur di Indonesia bisa
menembus Rp 100 triliun atau 100 kali lipatnya benih, jadi pangsa pasar ini
masih bisa meningkat dua kali lipat. Makanya benih sangat penting untuk
meningkatkan produktivitas hasil pertanian sayur mayur,” kata Afrizal.
Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih ketergantungan impor sayuran dari
China, Taiwan, Thailand dan negara lain. Nilai impornya mencapai sekitar Rp 17
triliun. Afrizal menjelaskan konsumsi sayur mayur di Indonesia baru mencapai 40
kilogram (kg) per tahun. Angka ini separuh dari rekomendasi Organisasi Pangan
Sedunia (FAO) sebanyak 80 kg setiap tahun. referensi
Masalah
sumber daya alam kita yang tidak seimbang dengan jumlah SDM adalah hal yang
perlu di titik beratkan untuk menjadi bahan pertimbangan skala prioritas.
Banyak dari lahan yang potensial sudah beralih menjadi lahan-lahan pembangunan
properti, hal tersebut hanyalah sebuah efek dari lemahnya strategi kita dalam
memberdayakan petani lokal kita baik dalam hal personal skillnya di bidangnya
maupun dalam hal menyiapkan pasar yang layak terlebih lagi bantuan dana
pengelolaan yang terukur dan tepat sasaran ( hipotesa ). Jika yang menjadi
bahan analisa kita adalah hipotesa tersebut maka wajarlah banyak lahan-lahan
yang potensial beralih menjadi lahan perumahan karena kondisi pendapatan petani
kita di beberaapa daerah yang tak perlu saya sebutkan sangat jauh dari harapan
jika dibandingkan dengan langsung menjual lahannya ke proyek-proyek properti.
Kekayaan kita
tidak bisa di pungkiri, akan tetapi melihat kondisi di mana-mana justru kita
geleng-geleng kepala. Butuh kerjasama kolektif yang strategis dan terukur oleh
semua pihak, baik pemerintah yang terkait dan masyarakat secara keseluruhan
tanpa terkecuali. Ini adalah masalah kita semua dan hal tersebut di atas tidak
boleh dibiarkan begitu saja karena kemerdekaan SDA dan SDM kita merupakan
faktor pendukung primer yang bisa menuntaskan masalah perekonomian bangsa kita.
MEMAKSAKAN
PENYAMARATAAN ANTARA YANG MISKIN DAN KAYA TANPA BERBUAT APA-APA ITULAH KOMUNAL
KOLEKTIF UTOPIS. SERTA TIDAK MELAKUKAN APA – APA ITULAH SUBKAPITALIS (bahan
renungan).
Mari berkarya
untuk bangsa yang kita cintai ini di VISASIA ENTREPRENEUR INDONESIA : masa
depan indonesia adalah masa depan indonesia, jangan tinggal diam dan
bersegeralah mengambil peran. JOIN BERSAMA KAMI

No comments:
Post a Comment