FORUM ENTREPRENEUR INDONESIA, PERAN ENTREPRENEUR INDONESIA DALAM MENGHADAPI GLOBALISASI

  • Breaking News

    Wednesday, 20 May 2015

    WAKTU SENGGANG DAN BUSISESS COMMUNTY BUILDING (KRITISISME)


    EKY_CASANOVA

    Risih dan sedikit kewewa, setidaknya itulah yang mampu saya ungkapkan di awal tulisan ini! Di tengah maraknya isu tentang globalisasi; kebanyakan orang hanya mendiskusikannya di forum-forum seminar serta pelatihan-pelatihan UMKM. Yah bersyukur sih tapi harusnya di titik beratkan pada pengawalan yang ketat dengan perencanaan yang terukur baik secara rasional dan secara empiris. Nyatanya UMKM kita kalah bersaing dengan pendatang baru (Alfa Mart, Alfa Midi, indomart), menurutku (sedikit agak individualis) ini hal yang sangatlah mengerikan karena marketing-marketing globalisasi menjalar hingga ke desa-desa dalam wujud sistem pelayanan konsumen bahkan sudah menjangkit layaknya tumor yang sudah sulit disembuhkan karena secara tidak sadar kita merestuinya secara kolektif disebabkan oleh daya konsumeris kita yang penuh gengsi tetapi sangat jauh dari prinsip kehormatan leluhur kita (abbulo sibtang). Wacana dan gagasan yang ideal tidaklah cukup karena hal itu ibarat sampah karena terlalu monoton pada aspek yang terlalu mengawang dikebanyakan orang. Fenomena sosial selalu berubah dan unpredektible dan sangat jauh dari landasan teoritis peniliaan kita jika keberatan maaf saja saya tak butuh diskusi panjang lebar (maaf jika tersinggung).

    Fenomena masyarakat kita secara tak kasat mata sudah terenyah-enyah, kemajuan teknologi yang juga menjadi salah satu kendala konsumeris kita, yah wajar kita menjadi mangsa empuk dari prodak-prodak kemajuan teknologi karena beberapa orang yang disebut-sebut sebagai intelengensia kaum sosial hanya monoton pada aspek teoritis yang menurut mereka adalah hal yang sudah permanen (intelektual kuldesak). Media informasi yang kian semakin canggih menyituasikan keadaan menjadi sempit. Dunia dan segala isinya telah diredusir berdasarkan kecepatan-kecepatan bite-bite. Dunia barangkali sudah mendapati ilustrasinya pada pepatah kun; dunia memang tak selebar daun kelor.

    Batas-batas geografis bergeser bukan hanya secara kognitif melainkan juga makna sejatinya menyempit. Ciri-ciri kultural yang menjadi khas kejamakan terkesan dipaksakan menjadi satu cara pandang yang sangat rapuh yah anggaplah yang kumaksudkan adalah demokrasi ekonomi yang memang menjadi persiapan menuju liberalisasi ekonomi secara absah ketika batas-batas kewilayahan bukan menjadi masalah untuk menggait keuntungan.

    Batas-batas geografis yang dulunya diukur berdasarkan ukuran kenyataan, kini diambil alih oleh dunia maya yang mengaburkan batas-batas kultural sebuah kawasan. Dampak dari ilustrasi tersebut secara kenyataan dapat dikategorikan sebagai titik kulminasi sebuah peradaban. kemajuan sarana yang begitu pesat, secara kultural memberikan hamparan kenyataan yang begitu pelik. Perjumpaan teknologi yang canggih pada masamasa masyarakat yang digerakan berdasarkan nalar kultural, masih membayangi situasi yang mengisyarakatkan betapa bangunan mentalitas masyarakat dunia ketiga menjadi terbelakang. Perhelatan yang paling sering kita temukan adalah kesenjangan antara kemajuan pengetahuan dengan derasnya alatalat komunikasi yang berbau tekhnologi tinggi. Situasi ini kita sebut saja sebagai cultural leg.

    Percepatan yang sama pun tidak saja menjadi modal hidup, melainkan sudah menjadi kebudayaan yang tak terhindarkan. Dimana seluruh level hidup, menjadikan waktu sebagai media pembebasan yang berharga sangat sulit untuk dimaknai. Dampak secara kultural adalah hilangnya esensialitas waktu senggang. Lebih jauh lagi, dari segi pemaknaan, diwaktu sekarang, kepemilikan waktu senggang menjadi hal yang rapat-mapat terkait dengan gerak laju kapitalisme.

    Keberadaan waktu senggang dalam alam globalisasi selalu dimaknai dengan pemaknaan yang eksterior.  Waktu yang dimiliki diartikulasikan berdasarkan kebutuhan yang konsumtif dan berbau gempita. Hiruk pikuk kota dengan deret ritus ritual kerjanya, paling tidak menggambarkan bagaimana konsumsi waktu senggang menjadi ritual yang berbau capital. Mall, tempat, rumah bernyanyi dan sederet tempat hiburan adalah ruang eksterior yang mendangkalkan esensialitas waktu senggang yang dimiliki. Fransiskus Simon, paling tidak memberikan penekanan betapa di kotakota besar waktu senggang habis dilahap oleh tampilan eksterioritas urban yang gempita.

    Sementara itu, makna waktu senggang yang sudah termuati makna capital, dengan sendirinya menyituasikan keadaan kebudayaan yang kosong. Di dalam situasi kekosongan inilah, masyarakat gampang untuk digerakan oleh prasangkaprasangka kebudayaan luar. Setidaknya alam kehidupan kota, menjadi batu sandaran bagi kita untuk menyimpulkan.

    Hal di atas menggambarkan bahwa hal tersebut bukan hal yang sederhana, dn kita harusnya bersatu dan menyikapinya secara serentak dan terstruktur serta terukur. Seperti pepatah: kejatahan yang terstruktur dapat mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir, dengan alasan tersebut kami dari pihak yang sudah bergerak secara terstruktur mengajak untuk bergabung dan menyatukan niat untuk masa depan indonesia kedepannya.

    Kami melaksanakan kegiatan-kegiatan yang disebut Affiliasi sebagai tahap awal yang terarah pada tiga aspek program andalan kami :
    • Visec.or.id sebagai tools pengembangan kuantitas komunitas.
    • Visasia.id sebgai tools yang mempertemukan antara pelaku UMKM dengan para pelanggan panatik yang juga sebagai loyalis komunitas.
    • Visasia.pro sebagai tools yang mempertemukan antara sponsor (donatur) yang siap       memberikan bantuan dana sebagai supporting pengembangan UMKM.
         MARI BERSAMA KAMI UNTUK MEMAJUKAN EKONOMI KERAKRYATAN    DAN MENGIKUTI SETIAP KEGIATAN KAMI HANYA ( KLIK HERE )







    Fashion

    Beauty

    Culture