EKY_CASANOVA
Risih dan sedikit kewewa,
setidaknya itulah yang mampu saya ungkapkan di awal tulisan ini! Di tengah
maraknya isu tentang globalisasi; kebanyakan orang hanya mendiskusikannya di
forum-forum seminar serta pelatihan-pelatihan UMKM. Yah bersyukur sih tapi
harusnya di titik beratkan pada pengawalan yang ketat dengan perencanaan yang
terukur baik secara rasional dan secara empiris. Nyatanya UMKM kita kalah
bersaing dengan pendatang baru (Alfa Mart, Alfa Midi, indomart), menurutku
(sedikit agak individualis) ini hal yang sangatlah mengerikan karena
marketing-marketing globalisasi menjalar hingga ke desa-desa dalam wujud sistem
pelayanan konsumen bahkan sudah menjangkit layaknya tumor yang sudah sulit disembuhkan
karena secara tidak sadar kita merestuinya secara kolektif disebabkan oleh daya
konsumeris kita yang penuh gengsi tetapi sangat jauh dari prinsip kehormatan
leluhur kita (abbulo sibtang). Wacana dan gagasan yang ideal tidaklah cukup
karena hal itu ibarat sampah karena terlalu monoton pada aspek yang terlalu
mengawang dikebanyakan orang. Fenomena sosial selalu berubah dan unpredektible
dan sangat jauh dari landasan teoritis peniliaan kita jika keberatan maaf saja
saya tak butuh diskusi panjang lebar (maaf jika tersinggung).
Fenomena masyarakat kita
secara tak kasat mata sudah terenyah-enyah, kemajuan teknologi yang juga menjadi
salah satu kendala konsumeris kita, yah wajar kita menjadi mangsa empuk dari
prodak-prodak kemajuan teknologi karena beberapa orang yang disebut-sebut
sebagai intelengensia kaum sosial hanya monoton pada aspek teoritis yang
menurut mereka adalah hal yang sudah permanen (intelektual kuldesak). Media
informasi yang kian semakin canggih menyituasikan keadaan menjadi sempit. Dunia
dan segala isinya telah diredusir berdasarkan kecepatan-kecepatan bite-bite.
Dunia barangkali sudah mendapati ilustrasinya pada pepatah kun; dunia memang
tak selebar daun kelor.
Batas-batas geografis
bergeser bukan hanya secara kognitif melainkan juga makna sejatinya menyempit.
Ciri-ciri kultural yang menjadi khas kejamakan terkesan dipaksakan menjadi satu
cara pandang yang sangat rapuh yah anggaplah yang kumaksudkan adalah demokrasi
ekonomi yang memang menjadi persiapan menuju liberalisasi ekonomi secara absah
ketika batas-batas kewilayahan bukan menjadi masalah untuk menggait keuntungan.
Batas-batas
geografis yang dulunya diukur berdasarkan ukuran kenyataan, kini diambil alih
oleh dunia maya yang mengaburkan batas-batas kultural sebuah kawasan. Dampak dari
ilustrasi tersebut secara kenyataan dapat dikategorikan sebagai titik kulminasi
sebuah peradaban. kemajuan sarana yang begitu
pesat, secara kultural memberikan hamparan kenyataan yang begitu pelik.
Perjumpaan teknologi yang canggih pada masamasa masyarakat yang digerakan
berdasarkan nalar kultural, masih membayangi situasi yang mengisyarakatkan
betapa bangunan mentalitas masyarakat dunia ketiga menjadi terbelakang.
Perhelatan yang paling sering kita temukan adalah kesenjangan antara kemajuan
pengetahuan dengan derasnya alatalat komunikasi yang berbau tekhnologi tinggi.
Situasi ini kita sebut saja sebagai cultural leg.
Percepatan yang sama
pun tidak saja menjadi modal hidup, melainkan sudah menjadi kebudayaan yang tak
terhindarkan. Dimana seluruh level hidup, menjadikan waktu sebagai media
pembebasan yang berharga sangat sulit untuk dimaknai. Dampak secara kultural
adalah hilangnya esensialitas waktu senggang. Lebih jauh lagi, dari segi
pemaknaan, diwaktu sekarang, kepemilikan waktu senggang menjadi hal yang rapat-mapat
terkait dengan gerak laju kapitalisme.
Keberadaan waktu senggang dalam alam globalisasi selalu dimaknai dengan pemaknaan yang eksterior. Waktu yang dimiliki diartikulasikan berdasarkan kebutuhan yang konsumtif dan berbau gempita. Hiruk pikuk kota dengan deret ritus ritual kerjanya, paling tidak menggambarkan bagaimana konsumsi waktu senggang menjadi ritual yang berbau capital. Mall, tempat, rumah bernyanyi dan sederet tempat hiburan adalah ruang eksterior yang mendangkalkan esensialitas waktu senggang yang dimiliki. Fransiskus Simon, paling tidak memberikan penekanan betapa di kotakota besar waktu senggang habis dilahap oleh tampilan eksterioritas urban yang gempita.
Sementara itu, makna waktu
senggang yang sudah termuati makna capital, dengan sendirinya menyituasikan
keadaan kebudayaan yang kosong. Di dalam situasi kekosongan inilah, masyarakat
gampang untuk digerakan oleh prasangkaprasangka kebudayaan luar. Setidaknya
alam kehidupan kota, menjadi batu sandaran bagi kita untuk menyimpulkan.
Hal di atas menggambarkan bahwa hal tersebut bukan hal
yang sederhana, dn kita harusnya bersatu dan menyikapinya secara serentak dan
terstruktur serta terukur. Seperti pepatah: kejatahan yang terstruktur dapat
mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir, dengan alasan tersebut kami dari
pihak yang sudah bergerak secara terstruktur mengajak untuk bergabung dan
menyatukan niat untuk masa depan indonesia kedepannya.
Kami melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang disebut Affiliasi sebagai
tahap awal yang terarah pada tiga aspek program andalan kami :
- Visec.or.id sebagai tools pengembangan kuantitas komunitas.
- Visasia.id sebgai tools yang mempertemukan antara pelaku UMKM dengan para pelanggan panatik yang juga sebagai loyalis komunitas.
- Visasia.pro sebagai tools yang mempertemukan antara sponsor (donatur) yang siap memberikan bantuan dana sebagai supporting pengembangan UMKM.
MARI BERSAMA KAMI UNTUK MEMAJUKAN EKONOMI KERAKRYATAN DAN MENGIKUTI SETIAP KEGIATAN KAMI HANYA ( KLIK HERE )

Comments